Kok kamu... sih?

 Bisa kalian tebak kata yang dapat mengisi kekosongan kalimat tersebut? Kalimat ini merupakan kalimat yang biasa digunakan untuk menanyakan apprearance's someone, yaa, tidak lain dan tidak bukan tentang body shaming. Pasti semua  orang mengalami hal tersebut. Mulut nitizen ini sungguh pedas memang.. Gue juga pernah mengalaminya bahkan sering. 

Dari kecil gue selalu diolok-olok karena penampilan gue. Gue akui memang kepala gue lebih besar ketimbang orang lain dan lebih besar dari badan gue seharusnya tetapi apakah itu salah? gue adalah makhluk hidup, manusia, sama seperti kalian hanya saja Tuhan memberikan lebih itu di kepala gue. Bertahun-tahun gue mencoba ikhlas dengan olokkan tersebut, menyakitkan sungguh menyakitkan apalagi untuk anak kecil. Tidak jarang gue selalu bertanya dalam hati dan bertanya pada Tuhan, "Tuhan, kenapa gue seperti ini? kenapa gue dilahirkan seperti ini? Apakah gue dilahirkan hanya untuk diolok-olok oleh makhluk hidupmu yang lain?".

Kemudian saat gue teenagers, gue diolok dengan hal yang baru, sama seperti sebelumnya, hanya saja dipertambah dengan sebutan pendek, kecil, badan lu gak sesuai sama pala lu. Huuuffftttt gue hanya bisa menangis sambil berkaca dan yang gue lihat di depan kaca yang gue lihat itu sama seperti yang mereka katakan. Gue cuma bisa diam dan diam berusaha tidak memedulikan perkataan mereka. Tapi yaaa walaupun gue berusaha tidak memedulikan, kata-kata itu selalu terbesit dalam pikiran gue mungkin karena terlalu sering gue mendengarnya. Bahkan sikap mereka yang acuh sama gue, terkadang anggap gue gak ada atau anggap gue tapi gue dijadikan seperti budak mereka yang mereka suruh-suruh, kadang juga mereka seperti merasa jijik sama gue. Saat itu gue merasa cukup putus asa dan ingin berakhir kemudian gue tersadar bahwa pikiran ini salah. Pada akhrinya gue mencoba kuat kuat kuat untuk semuanya walaupun gue seperti ini tetapi hati dan pikiran gue sehat. Saat itu juga gue berusaha belajar dengan giat, mati-matian, tujuan gue cuma satu, "Gue gamau melihat mereka lagi". Bukannya gue lari dari kenyataan atau apapun itu. Prinsip gue adalah yasudah, lebih baik tidak bertemu daripada bertemu mereka masih mengucapkan kata2 itu dan buat gue makin sakit hati, gue gamau menimbulkan dosa untuk mereka dan dosa ke diri gue karena perasaan mneyakitkan itu gue takut akan timbul dendam dan gue gamau punya dendam sampai akhir hidup gue. Dan yaaa terbukti gue bisa sampai "lari atau menjauh" dari mereka.

Lama sudah gue tidak mendengar kata-kata itu dan hidup gue terasa nyaman sampai akhirnya kata-kata itu kembali muncul, kembali terucap dari mulut teman dekat gue sendiri, yang tidak pernah gue sangka. Kata-kata itu terucap, sedih rasanya, hati gue seperti ditampar, seperti ada petir yang menyambar hati gue begitu keras. Kata-kata itu berhasil buat gue terdiam dan terpaku tetapi gue gamau terlihat aneh. Kata-kata tersebut terlontar dari bibir teman dekat gue cukup besar dan dia tertawa alhasil semua mata tertuju pada gue. Gue yang gamau berkelahi mundur pergi meninggalkan semuanya. Gue berusaha kuat tetapi air mata gue jatuh semakin deras seiring gue mengingat kejadin tersebut. Sakit rasanya, gue kira dia dalah teman gue yang bakal melihat gue dari muka, gue kira dia adalah benar-benar teman yang tulus tetapi ternyata tidak. Jujur gue menjauh dari dia karena yaa seperti yang udah gua katakan yaitu prinsip gue. Mungkin hal ini seperti pengecut bagi sebagian orang tetapi ketahuilah cara ini cukup baik ketimbang memperkeruh suasana.

Kemudian lebih menyesakkan dada, kata-kata itu kembali muncul saaat gue melamar kerja. Disayangkan kata-kata ini terucap dari pewawancara lulusan psikologi. Gue gamau menyebutkan nama perusahaannya karena pewawancara ini bukanlah dari perusahaan tersebut melainkan dari perusahaan vendor yang bekerja sama untuk merekrut karyawan. Ketika sesi wawancara itu ingin dimulai begitu banyak penekanan ynag gue rasakan dari pewawancara tersebut tetapi gue masih bisa meredam perasaan jengkel tersebut tetapi ketika perkataannya kepadaku, "Kamu kok kecil amat sih? Pendek amat sih kamu, tinggi kamu berapa?. Ya Allah rasanya disitu gue terluka hatinya, gue ingin wawancara ini berakhir saat itu juga tetapi yaa gue harus kuat dan berbicara dalam hati "Sabar ini ujian, keep calm ika". Padahal perusahaan yang gue lamar itu tidak ada persyaratan tinggi maupun berat badan tetapi entah kenapa ketika tahapan tes psikotest kami tuh disuruh isi formulir yang berisikan tinggi badan dan berat badan. BOOM banyak sekali penekanan dari pewawancara tersebut bahkan hal pribadi sangat pribadi menurut gue karena tentang keluarga, gue tahu bahwa beliau mengetes gue, bisa gak nih ni orang, kuat gak nih gitu2 deh.. Nanti gue bakal cerita seleksi kerja ini yaaa.. DDDAAAAANNN gue gak lolos tahapan ini. Terkadang gue bertanya-tanya apa gue gak lolos karena pewawancara itu yaaa tetapi gue berpikir positif ajah, mungkin test lainnya juga gue kurang maksimal yaaa bgitulahh.. kalo gue negatif terus berarti gue gak ikhlas donng tetapi ynag masih mengganjal adalah perkataan pewawancara itu tadi beliau adalah lulusan psikolog lho kok bisa kata-kata yang mengandung body shaming itu terlontar dengan mudah dari mulut beliau? gue gatau nama beliau karena beliau tidak memperkenalkan dirinya sediri. 

Kesimpulan dari gue, coba kalian introspeksi diri kalian dulu deh berkaca dulu sebelum mengomentari penampilan aneh orang lain. Ingat kita ini manusia, ciptaan Tuhan, jika kalian mengolok atau mengejek orang lain tandanya kalian mengejek Tuhan kalian sendiri dong. Dan penampilan itu hanyalah formalitas, penampilan hanya kebahagiaan sesaat, apa gunanya lu cantik atau tampan atau tinggi body lu bagus tapi hati lu sangat buruk, itu percuma guys.Ingat juga sudah berapa besarkah dosamu dengan kata2mu manyakiti hati orang, mungkin kalian tidak sadar bahkan jika kata tersebut mengundang tawa orang banyak akan semakin banyak dosamu dan kamu yang tertawa mendengar kata-kata tersebut, tawamu bisa menjadi dosamu juga. Sebelum kalian mati, cobalah ingat dosa itu dan cobalah meminta maaf kepada Tuhan dan orang yang kalian sakiti dengan perkataan tersebut. See you

Komentar

Postingan populer dari blog ini

gaje beut

kenangan

Batu