Cerita Awal Daftar Kerja

 Baiklah kali ini gue bakal cerita tentang gue mencari pekerjaan. Berawal dari surat keterangan lulus (SKL) baru banget keluar dan pas banget ada lowongan pekerjaan yang gue idam-idamkan dan alasan gue ambil penelitian pisang dan pekerjaannya pun sangat relate sama penelitian gue. Gue daftar dan ternyata sebulan kemudian gue dipanggil untuk melakukan test, sayangnya saat itu gue lagi di luar kota dan saat itu belum online semua masih offline karena sebelum korona menyerah warga Indonesia. Ya karena gue lagi di luar kota dengan terpaksa gue harus merelakannya. Kalau ingat kejadian itu gue sungguh menyesal sangat menyesal, seandainya gue nekat ajah buat ke sana mungkin gue bakal jadi salah satu staffnya sekarang. Sedh sangat sedih apalagi ini yang gue inginkan sebenarnya tetapi yasudah laaahhh.. let it go and move on. Oh yaaa secara bersamaan juga aku dapat panggilan buat magang di salah satu perusahaan start up tetapi yaaaa keadaannya gue lagi di luar kota dan gue belum wisuda. Ketika gue bertanya apakah saya bisa izin ketika nanti saya wisuda, beliau berkata hanya memberikan satu hari izin jadi dengan berat hati gue menolak tawaran tersebut. Saat itu juga gue daftar di perusahaan ansuransi BUMN hanya saja saya tidak lolos administrasinya hehe.. tidak memenuhi syarat karena mereka membutuhkan ijazah sedangkan gue belum punya ijazah.

Sepulangnya gue dari luar kota, gue fokus untuk acara wisuda gue dan gue berencana untuk apply kerja setelah mendapat real ijazah. Boom corona merajalela dan pemerintah langsung bertindak membatasi semua kegiatan. Alhasil lowongan pekerjaan itu semakin dikit guys dan sifatnya sangat terbatas. Banyak yang sudah gue lamar, ada yang melalui webnya secara langsung maupun melalui email. Gatau sih kebanyakkan tidak ada balasan dan ada juga yg ghosting kata2 zaman now. Ada beberapa perusahaan yang udah gue lamar dan gue udah ikut rangkaian prosesnya bahkan sudah di akhir-akhir seleksi dan gagal. Rata-rata gue gagal bagian wawancara, entah kenapa gatau kenapa padahal gue udah belajar kenapa saat wawancara gue gugup gitu yaaa belibet klo ngomong.. Gue selalu menyalahkan diri gue, "kenapa sih lo! malu2in ajahhh kenapa lo ngomong gitu, seharnya lo ngomong ini euy bukan itu, fokus napa". Kejadian itu terus berulang, gue gatau dengan diri gue sendiri, anehnya ketika gue jadi asprak, gue dengan mudah berkata atau ngomong apapun bahkan itu di depan orang banyak gitu lho tapi kenapa cuma satu orang ajah gue kikuk.. Astaghfirullah... Itulah yang buat gue terpuruk jujur gue sedih kecewa dengan diri gue sendiri dan terus bertanya, "Kenapa, ada apa sama lo?".

Waktu itu kali pertama yaa memang wajar karena itu adalah pertama kalinya gue wawancara kerja dan gue belum siap sama sekali. Yang kedua gue wawancara di salah satu perusahaan, wawancara pertama adalah bagian psikolog, pertanyaannya sungguh tidak terduga tetapi alhamdulillah gue lolos kemudian wawancara selanjutnya adalah wawancara bidang dan gue gak lolos, gue mengetahui gue gak lolos karena kurang kesiapan gue dalam mempelajari ilmu bidang gue dan kurangnya konsentrasi dan fokus karena saat itu online dan gue mempergunakan ruang tamu sebagai tempat, banyak gangguan yang gue dapatkan kemudian karena gangguan tersebut interviewer gue berspekulasi bahwa gue dapat bantuan dari luar, sejujurnya gue sempet membuat contekkan istilah-istilah namun tidak keluar dan contekkan yang gue buat bukanlah dari komoditas yang gue ambil tetapi yaaa sulit juga untuk melakukan bukti, gue mengetahui bahwa itu sebenarnya adalah penekanan unutk mengetes seberapa kuat adanya tekanan tetapi yaaa gue baper sebenarnya sedih gitu karena dibilang curang dan benar saja gue gak lolos. Ketika itu gue terpuruk dan perkataan interviewer sungguh membekas dan tergiang dalam pikiran gue. Kemudaian yang ketiga gue melakukan salah satu seleksi perusahaan dan wawancara secara offline sehingga membutuhkan adanya test rapid covid. Jujur setelah bertahun-tahun gue takut dengan jarum suntik akhirnya gue memberanikan diri gue buat test rapid tersebut.. senang karena akhirnya gue berani hehehhee. wawancara pertama adalah wawancara HRD,  gue sangat bersyukur karena staff perusahaan ini sungguh baik dan ramah dan ketika wawancara HRD sangat menyenangkan dan gue merasa nyaman ketika ditanya2 dan akhirnya gue lolos yeay... gue sangat bersyukur kemudian seleksi selanjutnya adalah psikotest, gue kira hanya tes psikotes saja jadi pakaian gue cukup sopan dan rapi dengan kemeja batik dan celana bahan hanya saja sepatu yang gue gunakan adalah snikers. Psikotes dimulai jam 8.30 setelah kami disuruh untuk mengisi formulir, gue gatau itu formulir apa sebenarnya. Psikotes berjalan hingga pukul 12.00. Gue kira sudah cukup ternyata masih ada lembaran lain untuk diisi tentang kepribadian tepatnya seperti soal papi dan menggambar orang gitu. Saat psikotes pertama selesai pukul 12.00 eh tiba2 nama gue dipanggil dan kami diminta menggunakan face shield yang telah diingatkan untuk dibawa selanjutnya gue diarahkan ke ruangan dan gue wawancara psikolog. Dari awal gue masuk sudah dipermasalahkan, gue gatau apa yang salah karena gue sudah mematuhi kesopanan seperti mengetuk pintu dan bilang permisi. Saat awal wawancara pertanyaan demi pertanyaan gue merasa kurang nyaman karena beliau menanyakan hal yang menurut gue sangat privacy dan gue gak dengan mudah untuk menceritakan hal itu gitu, pertanyaannya mengenai keluarga terlebih menyangkut bagian keluarga yaitu adik gue yang sudah tiada, kemudian pertanyaan yang menyangkut orang tua gue seperti "kamu anak tunggal? kamu anak ke berapa?" padahal saat beliau bertanya "Kamu anak ke berapa dari berapa saudara?" gue udah jawab saya anak pertama dan  saya anak tunggal. Hufffttt. Oke gue mencoba sabar dan sabar. Bnayak pertanyaan yang terus diulang dan ada pertanyaan yang aduh.. beliau bertanya. "kamu sudah melamar ke mana saja?" gue jawab ke ini dan itu terus beliau bertanya kembali, "Sampai di tahapan apa kamu mendaftar?" gue sebutin satu per satu tanpa ditutupi namun dalam catatan beliau menulis bahwa saya sedang menjalani seleksi di perusahaan ini dan itu padahal aku tuh udah billang, "saya hanya sampai di tahap ... dan saya tidak lolos ke tahapan selanjutnya" kesel gak sihhh.. aku mengetahui tulisan beliau karena catatan beliau cukup terbuka dan gue dapat membaca tulisannya karena tulisannya cukup mirip dengan tulisan gue hehehhe. Hmm ketika itu oke lahh mungkin karena beliau sudah lebih senior jadi yasudah gue ulang lagi tuh biar gk ada spekulasi yang gk sesuai sama apa yg gua omongin. Kemudian pertanyaaan yang sungguh gue merasa tidak nyaman adalah " kamu anak pertama, orang tua kamu sudah ngga dapatkan kamu?" kemudian pertanyaan "orang tua kamu menikah di umur yang sudah tidak muda lagi ya? keinginan kamu banyak berarti kamu nanti menikah di umur yang sama dengan orang tua kamu?" mungkin jika pertanyaan ini dikemas lebih apik mungkin gue akan merasa nyaman untuk menjawab hanya saja pertanyaan seperti ini dengan nada yang belia ucapkan gue merasa tidak nyaman terlebih ketika awal bertemu beliau sudah melakukan body shaming padahal dalam persyaratan kerja tidak dicantumkan kemudian ketika gue berbicara lembut malah disuruh keras serta cepat menjawab dan ketika bersuara keras disuruh dikecilkan gue merasa bingung ketika wawancara tersebut terlebih berbicara menggunakan masker dan face shield sungguh melelahkan apalagi habis mengerjakan soal psikotest yang lumayan banyak dan menguras energi terutama otak tanpa jeda istirahat. Dalam hati gue mencoba sabar dan istighfar dan yasudah lahh ikuti saja. Yaa benar psikolognya bukan berasal dari perusahaan tersebut melainkan dari mitra. Ketika seksi wawancara gue iseng penasaran jadi gue melihat ke bawah ke arah kaki pewawancara gue sembari membenahi kursi yang telah gue dudukki, gue mendapati kenyataan bahwa pewawncara gue merasa agak tinggi karena bantuan heels kok mungkin kalau tidak pake heels tingganya tidak jauh berbeda dg gue, di situ gue cuma bisa tersenyum dibalik masker. Setelah wawancara selesai gue bertanya kepada teman2 gue dan mereka cukup heran dengan cerita gue ketika wawancara dan salah satu teman gue yang satu ruangan hanya berbeda pewawancara dan meja dengan gue bertanya, "mengapa pewawancaramu seperti itu?", gue cuma bisa menjawab entahlah. Lalu setelah selesai mengerjakan test psikotes yang menggambar2, salah satu teman bertanya dalam grup sosmed yang telah kami buat mengenai pewawancara dengan menyebutkan ciri fisik dan yaaa itu adalah orang yang sama yang mewawancari gue juga. Ternyata pewawancara tersebut memang seperti itu dan bahkan kami tidak mengetahui namanya hingga akhir karrna beliau tidak memperkenalkan dirinya sendiri. Dari sini gue juga salah sih seandainya gue pake heels dan seandainya ada jeda waktu istirahat sebentar saja mungkin kejadian ini tidak akan terjadi tapi yasudah lahhh namun dari kejadian ini aku takut untuk wawancara psikolog karna takut diwawancara dengan pertanyaan seperti itu lagi dan gue gak lolos. yaaa gue gak lolos ke tahapan selanjutnya padahal tahapan selanjutnya adalah tahapan akhir yaitu mcu.. Sedih bangettttt karena satu langkah lagi gitu lho greget tetapi yasudah lahhh sudah terjadi.

Bulan berikutnya gue ada panggilan wawancara online dan tes online di perusahaan start up dan alhamdulillah gue lolos tetapi pekerjaan ini masih trainee atau istilahnya magang gitu dan gue jadi freelance tepatnya jad telesales.. gue hanya bisa bertahan sebulan dnegan dua minggu ojt, gue gugur karena tidak mencapai target yang diinginkan. Kemudian ada tawaran dengan posisi yang berbeda namun masih dnegan perusahaan yang sama dan gue gak lolos di tahapan akhir karena kecerobohan gue yang lama memencet tombol submit di tes terakhir.. sangat disayangkan dan betapa bodoh dan cerobohnya gue gitu lhooo. Sekarang gue sedang menjalani seleksi di salah satu perusahaan, tahun kemaren gue sempat mendaftar di perusahaan ini dan dengan jabatan yang sama tetapi hanya sampai psikotest tahap satu.. Mohon doanya agar lolos ke tahapan selanjutnya dan lolos hingga akhir dan dapat offering karena jujur menjadi pengangguran tidaklah enakkk. Bukan tidak mau untuk melanjutkan S2 hanya saja gue gak bisa egois karena pertama biaya S2 cukup banyak terlebih ayah gue akan pensiun tahun ini, jika gue dapat beasiswa pun bagaimana orang tua gue, mau makan apa?

yaaa yang gue pikirkan sekarang adalah orang tua gue, jika gue belum mendapatkan pekerjaan hingga ayah gue pensiun entah lahhh apa dan keluarga gue lakukan nanti terlebih perkataan sana sini, "lulusan IPB kok belum kerja? si itu ajah udah kerja lho masa kamu masih pengangguran sih?". Yaaa perkataan itu selalu gue dengar tetapi gue mencoba sabar dan pura2 tidak mendengar.  Jika gue membuka usaha, tidak lah mudah terutama biaya dan ide serta strategi untuk usaha tersebut butuh effort yang lumayan tinggi dan gue belum ada biaya itu.

Gue cuma berdoa dan berharap ini adalah rezeki gue dan sebelum puasa gue udah dapat pekerjaan..Dan jadikanlah seleksi ini adalah jalan untuk gue mendapatkan pekerjaan. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

gaje beut

kenangan

Batu